Jangan berharap jenis kelamin anak

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Jangan berharap jenis kelamin anak

Bagi Anda yang sedang berencana memiliki momongan, ada sejumlah persiapan yang harus Anda lakukan, termasuk menerima dengan hati berbunga apa pun jenis kelamin anak.

Bahkan, kalau dapat saya sarankan, Anda tidak perlu terlalu berharap dengan jenis kelamin anak. Lahir baik berjenis pria maupun wanita adalah kehendak Tuhan. Tugas orang tua adalah menerima amanatNya dengan tulus dan bertanggung jawab mengasuh dan mendidik anak secara maksimal. Lebih baik berdoa meminta kualitas yang prima pada diri anak, baik fisik maupun jiwanya, di samping meminta kekuatan untuk mengasuhnya.

Yang lebih parah adalah, ada orang tua yang dengan enteng membuat anaknya mengetahui bahwa sebenarnya dia adalah anak yang tidak diinginkan.

“Iya, dulu saya sih sebetulnya ingin anak perempuan. Yang pertama, kan, sudah laki-laki,” kata seorang ibu kepada sejumlah tamunya.

Saya yang mendengarnya sampai terkejut. Pasalnya, di situ ada anak keduanya, dan tidak ada satu pun yang bertanya tentang hal tersebut. Jelas, ucapan ibu tersebut sangat melukai batin Rendra (21), anaknya.

Saya tidak mengetahui lebih jauh seberapa dalam luka yang dialami Rendra, karena saya tidak memiliki kesempatan untuk berdialog secara khusus dengan remaja yang berambut gondrong tersebut. Hanya saja, pada kasus Duke (24), ucapan tersebut sangat fatal!

Ketika hamil, ibu dari Duke (24) menginginkan seorang anak perempuan yang akan lahir dari rahimnya, setelah anak pertamanya lelaki. Namun, harapan mama Duke tidak terpenuhi karena begitu lahir, di selangkangan anaknya menggantung testikel tanda bahwa anaknya lengkap dengan organ seksual pria.

Tidak tahu persis—belum dikonsultasikan ke ahli—apakah itu yang membuat Duke harus berdebar-debar ketika bersanding dengan rekan-rekan prianya ketika hormon seksualnya mulai membuncah. Duke mengetahui bahwa dia pria yang "spesial" sejak duduk di bangku TK.

Sejak kanak-kanak, dia lebih senang bermain dengan teman-teman sebaya yang berjenis kelamin perempuan. Padahal, kakak dan adiknya adalah pria—yang dia definisikan sebagai pria normal. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tak menampik jika dibilang bahasa tubuhnya agak gemulai.

Bahkan, karena bahasa tubuhnya yang agak kemayu, Duke kerap dirundung atau di-bully teman-temannya. “Iya, sering,” akunya.

Akan tetapi, dia merasa beruntung karena belum pernah mengalami aksi perundungan yang mengarah kepada pelecehan seksual.

“Alhamdulillah belum pernah sampai ke tindakan pelecehan-pelecehan seperti itu, hanya dibully, dikata-katain dan sempat dijauhin juga,” imbuhnya.

Memiliki alat vital pria—pun berukuran normal, Duke mengaku masih memiliki ketertarikan dengan perempuan, akan tetapi tidak sebesar ke pria. Namun, sampai hari ini dia berjuang untuk tidak mengekspresikannya, kecuali di ranah yang sangat privat.

Jika masturbasi, yang ada dalam khayalan Duke adalah sosok pria yang diidam-idamkannya. Dia menjaga rapat-rapat kecenderungan seksualnya ini, kecuali ke sedikit teman yang dia sangat percaya, termasuk kepada penulis.

Dia mengklaim tidak pernah mengenal pacaran, baik dengan wanita, apalagi pria. Duke cukup relijius. Saat SMA di sebuah sekolah negeri di selatan Jakarta, dia juga bergabung dengan organisasi ekstrakurikuler keagamaan. Duke yang masih tinggal serumah dengan papa-mamanya di daerah penyanggah Jakarta ini pun alumnus sebuah kampus berbasis agama.

Duke mengatakan sama sekali akan menyembunyikan ini dari keluarganya, sampai kapan pun. “Gak dan jangan sampai tahu,” jawabnya saat ditanya apakah suatu saat akan berterus terang ke orang tua.

Seiring usianya yang bertambah dan kemapanannya dalam karir, Duke yang kini bekerja di sektor swasta memimpikan sebuah pernikahan, yang tentu saja dengan perempuan sebagaimana kelaziman.

“Sebetulnya mau sekali seperti itu untuk ke depannya. Belum tahu, tapi 2 atau 3 tahun kalau di-planning-kan,” bebernya.

Akan tetapi, Duke khawatir jika tiba-tiba tidak memiliki gairah seksual dengan perempuan, sehingga akan malah mengecewakan istrinya.

“Takut, kalo jujur sih,” katanya.

Terkepas dari kondisi itu semua, Duke ingin keluar dari dunia pelangi ini. Dia berharap hasrat seksualnya kepada sesama pria lenyap sama sekali. Akan tetapi, dia tak tahu harus dari mana beranjak untuk mencapai maksud itu. “Itu yang saya bingung,” pungkasnya.

Berangkat dari kisah Duke, Anda harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Jika telanjur sempat terlintas hasrat ingin memiliki anak dengan jenis tertentu tetapi yang lahir ternyata berlawanan, terimalah dengan ikhlas dan kubur rapat-rapat informasi tersebut.

Kemeja \
3 kisah tragis pendiri Indonesia di akhir hidupnya
PDIP optimis Farhat Abas jadi jubir yang baik
Alasan Sekjen PDIP sering 'nyinyir' terkait mahar 1 Triliun
4 sejarah tradisi perayaan HUT RI ini ternyata punya kisah menarik
7 pengetahuan tentang seks yang perlu diketahui sebelum menikah
Menggelorakan semangat pahlawan di dada anak bangsa
Integritas Jokowi diragukan usai tunduk pada ancaman Ma'ruf Amin
Mengintip sekolah fashion muslim pertama di Indonesia
Tanda haji yang diterima Allah
5 bank besar jadi korban sekte penghapus utang
Usai haji, AHY bakal gabung tim pemenangan Prabowo-Sandi
Kubu Jokowi bekali tim kelola media sosial
Bongkar intrik Ma'ruf Amin, Mahfud masih dukung Jokowi?
Lantik Wakapolri Syafruddin, Jokowi amankan suara Polri?
Fetching news ...